PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM) TIDAK AKAN MAMPU MENGENTASKAN KEMISKINAN RAKYAT

PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM)

TIDAK AKAN MAMPU MENGENTASKAN KEMISKINAN RAKYAT

Latar belakang

Bermula dari tidak terkoordinasinya dengan baik program – program pengentasan kemiskinan yang dimiliki oleh departemen – departemen di pemerintahan RI, maka dimunculkanlah program ini. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) sendiri adalah suatu instrument pemerintah yang digulirkan untuk mencapai salah satu poin dari MDGs (Millenium Development Goals) yaitu pengentasan kemiskinan. Program ini akan menyatukan berbagai program yang dimiliki oleh berbagai departemen dibawah satu koordinasi tim penanggulangan kemiskinan.

Untuk meningkatkan efektivitas penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja, pemerintah meluncurkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri ini mulai tahun 2007. Melalui PNPM Mandiri ini dirumuskan kembali mekanisme upaya penanggulangan kemiskinan yang melibatkan unsur masyarakat, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi. Melalui proses pembangunan partisipatif, kesadaran kritis dan kemandirian masyarakat, terutama masyarakat miskin, dapat ditumbuhkembangkan sehingga mereka bukan sebagai obyek melainkan subyek upaya penanggulangan kemiskinan (Pedoman Umum PNPM, 2007).

Secara umum, PNPM adalah suatu program yang memberdayakan masyarakat secara optimal dalam mengatasi problem – problem kemiskinan yang terjadi. Masyarakat diharapkan akan aktif dalam pembuatan keputusan dan pemecahan masalah – masalah yang mereka hadapi. Dengan kata lain, dengan program ini, masyarakat hendaknya mandiri dan dapat menentukan sendiri apa yang harus dilakukan agar mereka terbebas dari kemiskinan.

Prinsip – prinsip dasar PNPM

PNPM-Mandiri menekankan prinsip-prinsip dasar berikut ini:

• Bertumpu pada pembangunan manusia.  Pelaksanaan PNPM Mandiri senantiasa bertumpu pada peningkatan harkat dan martabat manusia seutuhnya.

• Otonomi.  Dalam pelaksanaan PNPM Mandiri, masyarakat memiliki kewenangan secara mandiri untuk berpartisipasi dalam menentukan dan mengelola kegiatan pembangunan secara swakelola.

• Desentralisasi. Kewenangan pengelolaan kegiatan pembangunan sektoral dan kewilayahan dilimpahkan kepada pemerintah daerah atau masyarakat sesuai dengan kapasitasnya.

• Berorientasi pada masyarakat miskin. Semua kegiatan yang dilaksanakan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat miskin dan kelompok masyarakat yang kurang beruntung.

• Partisipasi. Masyarakat terlibat secara aktif dalam setiap proses pengambilan keputusan pembangunan dan secara gotong royong menjalankan pembangunan.

• Kesetaraan dan keadilan gender. Laki-laki dan perempuan mempunyai kesetaraan dalam perannya di setiap tahap pembangunan dan dalam menikmati secara adil manfaat kegiatan pembangunan.

• Demokratis. Setiap pengambilan keputusan pembangunan dilakukan secara musyarawah dan mufakat dengan tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat miskin.

• Transparansi dan Akuntabel. Masyarakat harus memiliki akses yang memadai terhadap segala informasi dan proses pengambilan keputusan sehingga pengelolaan kegiatan dapat dilaksanakan secara terbuka dan dipertanggunggugatkan baik secara moral, teknis, legal, maupun administratif.

• Prioritas. Pemerintah dan masyarakat harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan untuk pengentasan kemiskinan dengan mendayagunakan secara optimal berbagai sumberdaya yang terbatas.

• Kolaborasi. Semua pihak yang berkepentingan dalam penanggulangan kemiskinan didorong untuk mewujudkan kerjasama dan sinergi antar pemangku kepentingan dalam penanggulangan kemiskinan.

• Keberlanjutan. Setiap pengambilan keputusan harus mempertimbangkan kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak hanya saat ini tapi juga di masa depan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

• Sederhana. Semua aturan, mekanisme dan prosedur dalam pelaksanaan PNPM Mandiri harus sederhana, fleksibel, mudah dipahami, dan mudah dikelola, serta dapat dipertanggungjawabkan oleh masyarakat. (Pedoman Umum PNPM, 2007)

Ada apa di balik PNPM?

Tanpa mengurangi apresiasi kepada pemerintah yang berkeinginan untuk mengentaskan kemiskinan, ada beberapa hal yang mungkin tidak diperhatikan pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan negeri ini. Pemerintah tampaknya melupakan satu hal yaitu akar masalah kemiskinan yang menimpa sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini. Dari PNPM tersebut, pemerintah hanya menyebutkan harus begini dan begitu. Tanpa adanya upaya untuk menyelesaikannya secara mendasar, yaitu menghilangkan akar permasalahannya.

Pemerintah saat ini entah pura – pura tidak tahu atau memang benar – benar tidak tahu bahwa kemiskinan di negeri ini disebabkan oleh penerapan sistem ekonomi kapitalis. Sistem ini memang secara hakiki pasti mengharuskan adanya kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Sebagai gambaran betapa rumitnya masalah kemiskinan dalam sistem kapitalis ini, mari kita perhatikan lingkaran setan kemiskinan berikut ini :

Lingkaran Setan Kemiskinan

 

Apabila kita lihat lingkaran setan seperti yang ditunjukkan pada gambar di atas, paling tidak dapat kita rumuskan akar masalah kemiskinan itu sebenarnya apa. Sebagai sebuah lingkaran, tentu akan putus apabila salah satu bagiannya kita potong. Melihat lingkaran setan kemiskinan seperti di atas, ada beberapa hal yang setidaknya dapat dilakukan untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan, yaitu :

1.      Meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pembukaan lapangan pekerjaan.

2.      Menggratiskan dan memajukan pendidikan.

3.      Jaminan atas terpenuhinya kebutuhan primer masyarakat (papan, sandang, pangan).

4.      Menggratiskan fasilitas kesehatan.

5.      Pemberian modal gratis bagi usaha rakyat miskin.

Semua poin pengentasan kemiskinan di atas telah dilakukan oleh Rasulullah saw dan juga para sahabat dan khalifah – khalifah sesudahnya. Misalnya saja Umar bin Khattab yang pernah memberikan sebidang tanah dengan gratis kepada seseorang yang tidak memiliki tanah untuk bercocok tanam. Ataupun juga pembiayaan pendidikan yang memang gratis oleh Rasulullah saw dengan mengganti uang jaminan bebas para budak perang dengan pengajaran baca tulis gratis kepada kaum muslimin. Semuanya itu dilakukan oleh Rasulullah saw dan juga orang – orang sesudahnya sesuai dengan bimbingan Islam. Sehingga apabila pemerintah memang serius ingin mengentaskan kemiskinan beberapa hal fundamen di atas harus segera dilakukan.

Tetapi sayangnya kelima poin di atas tidak mungkin akan tercipta pada sistem ekonomi kapitalis. Bagi mereka kegiatan ekonomi masyarakat termasuk mendapatkan pekerjaan yang layak ataukah tidak harus diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Sehingga pada dasarnya tidak ada dalam kamus mereka istilah membuka lapangan kerja bagi rakyatnya, apalagi menyediakannya. Ataupun juga pendidikan dan fasilitas kesehatan gratis yang sangat – sangat tidak diharapkan oleh sistem ini karena hanya akan membuat rakyat menjadi tidak mandiri karena terlalu banyak disubsidi.

Kalau pendidikan dan fasilitas kesehatan saja tidak digratiskan apalagi pemberian modal secara cuma – cuma tentu merupakan suatu hal yang tabu dalam sistem ini. Sehingga jangan heran apabila pemerintah hanya akan sebatas meminjami modal kepada rakyatnya dengan bunga yang harus dibayar oleh mereka setiap tahunnya. Semua itu semakin memperjelas bahwa masalah kemiskinan tidak akan dapat diatasi oleh PNPM yang didasarkan kepada sistem ekonomi kapitalistik sekuler ini.

Di samping tidak memiliki pemecahan mendasar atas permasalahan kemiskinan di Indonesia, rupa – rupanya juga ada maksud tersembunyi di balik program PNPM ini. Sadar ataukah tidak pemerintah telah menjadi anak buah yang dengan setia mengikuti apa saja kata tuan besar Amerika Serikat dalam mengurusi rakyatnya. Misalnya saja program kemandirian rakyat. Program itu adalah program yang memang dilakukan sebagian besarnya oleh rakyat. Sehingga pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator saja, atau bahkan mungkin hanya sebagai penyedia fasilitator saja. Dengan demikian salah satu syarat terciptanya sistem ekonomi kapitalis dalam kehidupan negara ini akan tercipta dengan kondusif.

Salah satu syarat itu adalah sedikitnya campur tangan pemerintah dalam usaha ekonomi rakyat. Memang program ini berasal dari pemerintah, akan tetapi tujuan akhir yang ingin dicapai oleh pemerintah adalah sedikitnya campur tangan pemerintah dalam mengurus ekonomi rakyatnya. Walhasil kesenjangan social akan tetap terjadi sebagaimana layaknya kesenjangan social terjadi di negara yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis seperti Amerika Serikat. Rakyat mandiri yang dimaksud bukanlah mandiri dalam pengertian memiliki pekerjaan yang layak untuk menafkahi keluarganya, tetapi mandiri dalam pengertian mengurusi urusan – urusannya sendiri. Padahal disinilah seharusnya pemerintah itu berperan, yaitu untuk mengurusi kepentingan – kepentingan rakyatnya.

Di samping itu, program ini juga menitikberatkan pada aktivitas kesetaraan gender. Maka tidaklah mengherankan bila iklan seorang ibu tukang sayur yang harus bekerja mati – matian dimunculkan di tv – tv swasta. Iklan itu menceritakan bahwa sudah saatnya kaum perempuan ikut ambil andil dalam mengatasi permasalahan kemiskinan. Bagaimanakah kaum perempuan dapat ikut andil? Tentu saja dengan bekerja sebagaimana layaknya kaum laki – laki bekerja. Bekerja bagi kaum perempuan tidaklah haram, selama dia tidak mengabaikan tugas pokoknya yang utama yaitu sebagai seorang ibu. Akan tetapi dalam kondisi apapun juga, yang sebenarnya diwajibkan mencari nafkah adalah seorang suami, bukan seorang istri. Di sinilah seharusnya peran pemerintah dalam menyediakan pekerjaan yang memang layak kepada para suami untuk menafkahi keluarganya.

Sehingga program PNPM ini tidak lain hanyalah sebuah madu berbalut racun yang bisa menghancurkan generasi muda kita nantinya. Hal itu karena mereka tidak mendapatkan pendidikan yang layak dari sang ibu. Kaum ibu akan cenderung bekerja keluar rumah sehingga pendidikan anak yang seharusnya diterima sang anak menjadi terbengkalai. Bukankah rusaknya generasi muda barat saat ini tidak dapat dilepaskan dari hal ini yaitu turut bekerjanya kaum ibu meskipun sang suami mampu memenuhi kewajiban nafkahnya.

Sebagai penutup, kemiskinan tidak akan pernah dapat ditanggulangi selama kita menggunakan pendekatan sistem kapitalis dalam menyelesaikannya. Sebab secara pembawaan, sistem ekonomi ini memang pasti akan menghasilkan kesenjangan social di antara rakyatnya. Sebagai gantinya hanya sistem Islamlah yang akan dapat mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dengan lima poin fundamen di atas. Tanpa adanya penyelesaian akar masalah, sebaik apapun dan seindah apapun program pemerintah, selama itu pula program itu akan kandas ditengah jalan termasuk program PNPM ini.

Millenium Development Goals (MDGs) menurut saya hanyalah sebuah ilusi dan khayalan sistem kapitalis sekuler yang diusung oleh Amerika Serikat dan sekutunya. MDGs itu sendirilah yang akan menelanjangi kebobrokan – kebobrokan sistem kapitalis sekuler ini. Dengan pertolongan Allah swt insya Allah kehancuran sistem kapitalis sekuler akan segera tiba dan diganti dengan sistem pembawa rahmat yaitu Islam.

Cukuplah kisah berikut sebagai renungan bagi kita semua akan kesalahan kita karena begitu mempercayai sistem kapitalis sekuler dan cenderung mengabaikan sistem ekonomi Islam.

Ibnu Abdil Hakam dalam kitabnya Sirah Umar bin Abdul Aziz hal. 59 meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu berkata,”Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin. Namun saya tidak menjumpai seorang pun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan semua rakyat pada waktu itu berkecukupan. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli budak lalu memerdekakannya.” (Al-Qardhawi, 1995).

Coba bandingkan keadaan pada masa Umar bin Abdul Aziz tersebut dengan pemerintahan kapitalis sekuler manapun di dunia ini bila ada bandingannya. Cukuplah kelaparan Ethiopia di Afrika sebagai contoh nyata gagalnya sistem ekonomi kapitalistik ini. Sesungguhnya hanyalah Allah swt yang berhak dimintai tolong atas problem – problem umat ini, bukan kapitalis sekuler pimpinan barat. Wallahu a’lam bi ashshawwab.

 

37 Responses

  1. hwaduh,, tulisanmu berat y mas, sori,, belum sempat dibaca smua, jadi belum bisa ikut komentar.

    Makasih udah mampir di blog-ku yak! Tetap semangat belajar!

  2. Terima kasih banyak atas tulisan mengenai PNPM ini kebetulan saya lagi banyak ingin tahu masalah PNPM ini moga-moga banyak diketahui oleh relawan-relawan yang sedang berjuang untuk program ini karena program ini sangat mulia jika penerapan ke sasarannya benar. Mohon diperbanyaak jika ada informasi2 yang sejenis ini.

    Salam terimakasih saya, Rohmat anggota BKM kelurahan Jatinegra Kecamatan Cakung Jakarta Timur dari RW. 06,

  3. Mas Wisnu,
    Rincian anda saya pikir menarik dan berdasar, dan kesmpulanya saya sangat setuju. PNPM hanyalah ‘kendaraan’ untuk kelompok tertentu berdalih membantu mayoritas……itu kalau bicara politik
    bicara substansi, apapun model pengentasan kemiskinan, sebenarnya yang juga diperlukan adalah sistem pengaman yang dibutuhkan setalah bayi itu keluar dari ‘inkubasi’. Rakyat miskin, ibarat bayi yang mau diajari melangkah, karena mereka memang sangat rentan dari sudut apapun, sementara inkubasi yang saya maksud adalah ‘proyek’ PNPM itu sendiri.
    Kalau tidak ada tata kelembagaan yang dibangun untuk keentingan ini, maka rakyat hanya sehat masa inkubasi saja, dan selebihnya , mereka akan menghadapi wabah dan virus pasar yang tidak dapat mereka adopt.
    Saran saya,
    bagi para pengagum PNPM termasuk pelaku-pelaku (konsultan)nya, BERHENTILAH memaksa orang lain untuk mengatakan bahwa PNPM berhasil !
    Dua, urusan kemiskinan yang saat ini selalu dikait-kaitkan dengan MDG (yang sebenarnya tidak perlu) adalah tanggung jawab sepenuhnya para penyelenggara pemerintah dengan jabatan dan cakupan tugasnya. Bukan tanggung jawab Konsultan. Perbedaan ini memberi implikasi nyata pada hasil. Bila tetap di Konsultankan (di proyekan), sampai kapanpun tidak akan pernah ada mekanisme pertanggungan jawab. Arti lain adalah, kalaupun PNPM tidak berhasil, tidak akan pernah ada yang dapat DITUNJUK HIDUNGNYA !!!!!
    Mereka hanya akan menyalahkan Konsultan, yang kadang dengan heroiknya merespon dengan mengganti Konsultan baru sebagai perwujudan niat memperbaiki. Mekanisme ini akan berjalan monoton seperti ini, dan diharapkan pihak-pihak lain akan puas dgn manajemen proyek yang responsiv ini. TETAPI APA sebenarnya dibalik itu semua ? RAKYAT SUDAH MENERIMA AKIBATnya (diganti berapapun dengan Konsultan apapun) dan proyek tetap berjalan (yang berarti tanggung jawab pemerintah hanya sebatas mengelola Konsultan)
    Ini jelas tidak benar !!!Suatu saat harus ada yang di kenakan sanksi bila AMANAH RAKYAT (karena dia melakukan proyek menggunakan uang negara) tidak terpenuhi…..
    Ketiga, mekanisme koordinasi yang dilakukan oleh Menko Kesra bukanlah koordinas sebenarnya, karena proyek yang ada justru dia tangani sendiri, dan pihak lain tidak terlibat dalam pengelolaan proyek itu.
    Semestinya, biarkan anggaran ada di Departemen terkait, dan Kesra mengkoordinir agar seluruh aktivitas sampaioutcome dapat mencapai seperti yang diharapkan.

    KASIHAN DEH kita, dibohongi oleh pemerintah lewat PNPM nya…yang katanya dengan angka yang semakin meningkat, menunjukkan bahwa pemerintah sudah pro rakyat miskin……Ternyata, pemerintah lebih pro kepada Menko Kesra…..

    Ya gitulah negara kita, yang masih juga main bodoh-bodohan antar sesama.
    Perjuangkan agar proyek kemiskinan tidak lagi di Proyekkan…dalam bentuk apapun. Biarkan pemerintha bertanggung jawab (biarkan kegiatan penanganan kemiskinan build in didalam mekanisme kerja Departemen Departemen semua) Tidak ada lagi perhatian yang separo-separo…..kalau memang menjadi Prioritas Nasional.

    Qua konsep oke-oke saja, tetapi qua pelaksana…usahakan bukan Konsultan LAGI (sudah lebih dari 10 tahun ditangani oleh Konsultan dan hasilnya tidakada yang bisa disalahkan)…….
    salam perjuangan
    Guritno
    salam

  4. Uraian yang panjang lebar.
    Sayang tidak disertai dengan data-data penunjang yang mendukung tulisan Anda.
    Tanpa adanya data, sebagai pembaca saya susah membedakan apakah tulisan ini menuliskan ulasan, review, opini, atau fitnah.

  5. Tulisan ini memang tidak disertai dengan data karena ini memang bukan tulisan untuk kepentingan riset…
    tapi ini adalah tulisan mengenai konsep PNPM itu sendiri…
    kalo dikatakan tulisan ini adalah opini…boleh juga…
    memang tulisan ini saya sajikan untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi itu saja….
    wassalam

  6. Saya tertarik sekali dengan pandangan Bapak yang Bapak ungkapkan dalam tulisan ini. Saya juga hobby mengamati pemerintah dan program2nya, terutama di bidang ekonomi. ekonomi. Apakah bapak bersedia bertukar pikiran lebih jauh lagi? Mungkin tidak spesifik untuk topik yang satu ini, mungkin untuk topik2 ekonomi yang lain…

  7. boleh saja,
    ini alamat email saya : wisnusudibjo@yahoo.com
    telp : (022)70969404

    wassalam

  8. Melihat uraian Bapak2 YTH,saya sangat kagum sekali, tapi setelah saya masuk dalam lingkup PNPM,waduh terasa RUMIT, Apalagi Pandangan masyarakat bawah , bahwa PNPM adalah DANA yang TERKESAN gratis,Jadi akar permasalahan BERHASIL TIDAKNYA PNPM sebenarnya adalah BAGAIMANA CARA KITA MENSOSIALISASIKAN KE MASYARAKAT BAHWA DANA ITU UNTUK KEMASLAHATAN ANAK CUCU NANTI…..

  9. nah makanya justru itu mbak Erna, permasalahan pengentasan kemiskinan tidak bisa hanya dengan program itu saja…harus komprehensif di seluruh sektor dan semua orang turut serta…

  10. Mas Wisnu yang kami hormati, salut akan kritik saudara. menurut saya melihat PNPM jangan hanya melihat judulnya saja, saya faham kekuatiran mas wisnu, namun perlu diketahui bahwa sebelum jadi PNPM (gabungan dari beberapa program penanggulangan kemiskinan, misal dari ppk sejak tahun 1998). konsultan di pnpm bukan seperti konsultan pada proyek-proyek lain, melainkan sebagai pendamping masyarakat. jika ingin tahu keberhasilannya lha.. coba tanya langsung pada pemanfaat/ masyarakat yang memanfaatkan. memang mungkin saja terjadi sebagian kurang tepat sasaran. tapi coba kita melihat dengan kacamata yang lebih obyektif, sebagai pendamping masyarakat kita juga sangat memahami bahwa dananya berasal dari pinjaman, sehingga sadar betul bahwa hasil-hasilnya sesuai dengan kebutuhan yang ada di masyarakat. patut bersyukur bahwa melalui pnpm mekanisme pembangunan tidak lagi topdown (meskipun masih ada). salut buat mas wisnu.

  11. hahahaha gayung bersambut….. toe mas Wisnu…. Kami No Coment Dulu….
    yang Jelas Saya adalah salah satu Fasilitator Kecamatan… di Malinau Utara Kab. Malinau… Kinerja di Lapangan …. kami dengan 4 orang teman saya yakin… dapatlah berharap melalui PNPM Mandiri Perdesaan 2008 semoga kemiskinan dapat dikurangi dan kemandirian desa dapat ditingkatkan…..Namun….kita sebagai Consultan ato Fasilitator justru dibohongi oleh Administrator Wilayah Prop. kalimantan Timur….di bawah PT. Inacon Luhur Pertiwi…. kita menandatangani kontrak dgn 4 lembar materai dengan kompensasi salary yang telah diesepakati bersama. ternyata begitu dilapangan terjadi pemotongan secara sepihak dengan alasan surat (berkas) kontrak adalah DRAFT YANG SALAH KETIK!!!!!!Bagaimana mungkin kita sudah menandatangani kontarak dengan 4 lembar materai masih dikatakan draft salah ketik pula…. padahal kita diwajibkan untuk komitmen dengan masyarakat….melebur dgn masyarakat mengawal Dana Bantuan Masyarakat yang tidak sedikit besar nominalnya….. itulah akar korupsi…. kesejahteraan kami sebagai fasilitator terabaikan…
    Malinau tidak dapat diketegorikan wilayah “NORMAL” hanya tim gila dan bohong yang telah melaporkan bahwa lokasi di Malinau… mudah dijangkau….perlu anda semua tahu…kami sebagai Fasilitator harus mempertaruhkan keselamatan dan kesehatan utk dpt menjangkau lokasi demi PNPM-MP 08…. apa dikata jaminan K3 saja kami tidak ada…..bagaimana nasib kami??????????semoga tulisan ini dapatlah dibaca dan dicermati olah orang-orang yang ngaku telah survey wilayah Kab. Malinau…. Lihatlah daerah Malinau….kalo tidak mau penduduknya bergabung dengan negara tetangga…… yang jelas mas… PNPM-MP 08 biar jadi harapan untuk mengurangi kemiskinan…….asal Managemen dari atas juga yang lebih serius….OK…..kami cuma ingin juga cari makan buat keluarga di rumah yang jauh jaraknya…..

  12. yang benar saja..saya kurang begitu paham akan PNPM soalnya saya baru saja melamar sebagai pengurus PNPM di kecamatan saya, bila ada informasi yang menarik seputar kegiatan PNPM atau apa saja, please kirim informasi tsb ke alamat email saya ya….mkch sebelumnya…

  13. PNPM MP atau disebut Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan, bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan khususnya rumah tangga miskin dan hal tsb tidak semudah membalikan telapak tangan sdr Wisnu, tapi harus ada usaha positif kearah tersebut, salah satunya adalah PNPM MP yang merupakan upaya pemerintah dengan memberdayakan dan mengikut sertakan masyarakat dalam melakukan perubahan yang lebih baik ttg daerahnya,Sehingga tercapainya tingkat kesejahteraan dan kemandirian masyarakat. PNPM MP adalah kelanjutan dari PPK sejak thn 1998, yang sudah dirasakan manfaatnya oleh masyakat dipedesaan, meskipun perlu perbaikan kedepan. Adapun perlunya konsultan dalam pelaksanaan program tsb adalah sebagai pendamping masyarakat untuk mengarahkan dan membina masyarakat dalam menjalankan program tsb agar sesuai dengan tujuan dan prosedur yg berlaku pada program, Serta kita harus tahu bahwa Bantuan Langsung Masyarakat sebagian didanai dari APBN atas pinjaman lunak dari Bank Dunia, sehingga agar dana tsb benar benar terserap utk masyarakat perlu pemantauan Konsultan Independen dalam penyalurannya. Saya menyarankan sdr Wisnu, pahami dulu PNPM MP baru membuat opini .Karena menurut saya sdr Wisnu baru tahu kulitnya dan belum tahu isi dari program tsb, Atau mungkin sdr Wisnu ini orang yang pesimistis dan apriori terhadap program penanggulangan kemiskinan sehingga merasa kurang yakin akan keberhasilan program ini. Atau karena tidak dapat proyek dari program tersebut ? Memang hampir semua masyarakat awam akan memberikan penilaian yang sama seperti opini yang dibuat sdr Wisnu karena trauma banyak program sejenis yang d
    ibuat pemerintah tapi tidak memperlihatkan hasil yang significan, Khusus program ini baru dimulai tahun ini 2008 kita harap bisa berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan dan sdr Wisnu perlu yakin pada arti surat yang menyatakan “Tidak akan berubah suatu bangsa jika bukan bangsa tersebut yang merubahnya”. Saya hanya berfikir bagaimana kita bisa berbuat suatu perubahan jika kita sendiri selalu berfikir pesimistis.Jangankan untuk berbuat sesuatu yang positif untuk bangsa kita, berfikiran positif saja sulit untuk sesuatu kearah kebaikan. Maaf mungkin
    saja saya juga salah tapi saya hanya berfikiran positif saja mudah mudahan PNPM MP yang digalakan pemerintah untuk mengurangi kemiskinan dan memberikan kesempatan kerja bagi pengangguran dipedesaan dapat terwujud dengan pemberdayaan dan kemandirian masyarakat. Ok sdr Wisnu opini anda masih terlalu dangkal, Karena setahu saya dalam merancang suatu program pengentasan kemiskinan memerlukan penetilitan dan pengujian apakah program tersebut dapat dilakukan atau tidak,Apalagi program sebelumnya yaitu PPK sdh teruji keberhasilannya dan pemanfaatan sangat dirasakan oleh masyarakat di desa, Semoga sdr Wisnu tdk tersinggung dan dapat memahami, kebetulan saya adalah pengamat atau pemerhati Pemberdayaan Masyarakat di Batam dan Kepri, sangat antusias dengan program program seperti ini.
    Wassalam

    • Begini biar tdk slh pengertian PNPM bkn gagal tapi perlu dievaluasi unt dicarikan bentuk lain krn PNPM mempunyai bbrp proses yg ckp panjang & rumit unt ukuran masy. desa pd umumnya yg praktis2 aja apalagi kegiatannya berupa phisik walau sederhana….ampun deh administrasinya. Krn mrk memikirkan unt kebutuhan sehari2 saja sdh matia-matian apalagi mengikuti proses PNPM yg panjang. Sekarang saya mau tny pemerintah itu dibentuk unt apa sih? Tentu unt ngurusi rakyatnya kan? Nah skrg bagaimana pemerintah tau apa yg menjadi permasalahan rakyat di masg2 daerah? Inilah proses PNPM yg berperan tp sebaiknya tdk unt semua thpan masy. hrs berperan 100 %. Begini mksd saya pada proses PNPM MP dari MAD I, MD I, Penggalian Gagasan, MD II, Penyusunan Proposal, pengawasan, persiapan pelaksanaan & Pelestarian kegiatan masy. terlibat 100 % tp unt penyusunan RAB s/d Pelaksanaan kegiatan khususnya infrastruktur berupa phisik berikan kpd yg ahlinya masy hny mengawasi & terlibat dlm. pengerjaannya berupa tng krj, krn bagaimanapun dlm penyusunan RAB phisik & pembuatan Adproyek secara logika hrs org yg menguasai dibidang itu nah unt menguasai bidang itu diperlukan sekolah+pengalaman, baru akuntabilitasnya terjamin. Mgkn yg ini namanya pengintegrasian antara masy dg pemerintah, berupa apa? pembangunan yg efektif, tepat sasaran & menuntaskan masalah didaerah msg2 berdasarkan proses yg didpt dari masy jgn spt OTDA yg tlh menyimpang dlm pelaksanaannya. Sehingga pemerintah dlm mengalokasikan anggaran btl2 kegiatan yg prioritas dari masy. bkn titipan org2 tertentu. Bknkah PNPM slh satu tujuannya selain meminimalkan kemiskinan, membuat masy. mandiri juga unt membangun masy. yg kuat unt menunjang pemerintahan yg kuat bkn malah sebaliknya saling melemahkan. Jadi ada kepentingan dari kedua belah pihak unt saling menguatkan, ini merupakan roh dari BKAD. Nah unt mandiri dlm arti yg sesungguhnya bagaimana ? krn saya melihat PNPM blm sepenuhnya berhasil krn peran konsultan pendamping msh sgt tinggi, semestinya masa bakti konsultan hrs ada batasnya, biarkan masy berproses & bertangguingjawab berdasarkan apa yg tlh mereka dptkan dlm pelatihan2 sesuai dg azasnya DOUM, disitu nanti akan bisa dilihat mana daerah yg berkembang krn tetap lestari prosesnya & mana yg tidak, Apabila ternyata dari sekian ribu kecamatan hny sedikit keberhasilannya (bkn dari masy. saja tapi dari apa yg ada di PTO juga) tentu hrs disempurnakan lagi program tsb. Krn bagaimanapun ini duit htg kasian negara apabila tujuan dari PNPM tdk optimal tercapai akan lbh kasian lagi masyarakatnya krn terbebani dg htg yg hrs dibyr mgkn dg menaikkan pajak, menjual aset negara, dll. Konsultan tdk perlu takut kehilangan pekerjaan apabila masyarakat sdh mandiri, krn kita bisa belajar dari masy. desa yg tdk tergantung krj dikantoran. Konsultan scr tdk lgs mempunyai ilmu yg melebihi dari org. desa jadi kenapa tkt?
      Unt mbak Yunarlis boleh saya tau email anda? Bnyk hal yg prl saya diskusikan ttg hal ini…Salam Kompak D, tx.

  14. Saya salah seorang warga yang baru dua hari yang lalu didatangi relawan dan menjelaskan mengenai PNPM ini akan tetapi ada sebuah kejanggalan dalam pertemuan tersebut yaitu pada saat itu juga kita diharuskan menandatangani keikutsertaan dalam program tersebut. Yang tidak habis fikir kenapa kita dipaksa untuk menandatangani program tersebut dengan dalih bahwa bila 1 RW menolak maka seluruh 1 Desa tersebut tidak akan dibantu dengan program tersebut. Saya cuma ingin masukan dari orang-orang yang lebih mengerti mengenai program ini, baik berupa asal muasal dananya dan apa tujuan sebernnya dari program ini, karena saya benar-benar belum bisa memahaminya.

    Terimakasih

  15. Waduh terima kasih ya mas saya lagi cari tahu dasar – dasar PNPM buat bahan kami , good luck ya pnpm

  16. Makasih tulisanya mas wisnu tajam orisinil. Kalau boleh kami sedikit berkomentar tentang kemiskinan lebih banyak penyebabnya yakni terpinggirkanya masyarakat miskin dalam proses pengambilan keputusan, sehingga mereka tidak tercerabut dari kemiskinannya. Dilihat dari konsepsi pnpm mandiri perkotaan yang mencoba melibatkan masyarakat miskin dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi dan pelesatarian kegiatan.
    Disadari anggaran untuk pelaksanaan program ini sangatlah besar, meskipun bukan yang menjadi tujuan akhir dari program, tapi proses belajar bersama yang dilakukan oleh para stakeholders. Bukankah memulai melalui niat baik untuk memberdayakan masyarakat jauh lebih berguna. Disadari sepenuhnya dalam kegiatan tersebut terdapat kelemahan-kelemahan. Mungkin ada baiknya kita bersama melihat secara jernih keberehasilan yang juga telah di capai; berupa: Terbentuknya ribuan LKM/BKM yang komit berjuang sebagai wadah pembelajaran dalam pengambilan keputusan di masyarakat. Disamping itu telah dilakukan pelatihan relawan yang jumlahnya ratusan ribu senusantara. Ini salah indicator keberhasilah PNPM Mandiri perkotaan.

  17. Memang kalau kita lihat PNPM secara luarnya saja kan banyak muncul kritik, ini sah-sah saja, dan ini yang diharapkan PNPM khususnya PNPM-p2kp (perkotaan ), adanya masyarakat yang mempunyai pemikiran kritis, P2KP (PNPM mandiri perkotaan ) menganggap akar penyebab kemiskinan adalah ‘LUNTURNYA NILAI-NILAI LUHUR KEMANUSIAAN, yakni kejujuran, keadilan, keikhlasan, tidak semata hanya faktor ekonomi saja. Lunturnya nilai-nilai luhur tersebut mengakibatkan kita semua cenderung eksploitatif, serakah, tidak peduli terhadap orang lain, kalau orang -orang /manusia nya duduk dalam pemerintahan/lembaga maka lembaganya akan menghasilkan kebijakan yang tidak pro poor, kalau manusianya menguasai sumber daya (alam), ia akan cenderung serakah, ada orang Indonesia yang pnghasilannya lebih dari 1 M sehari, tetapi ada juga yang kurang dari 5 ribu sehari, kenapa ini terjadi, apakah ini karena kita mengadopsi sistem KAPITALIS?, dimana yang kuat mengusai yang lemah, ataukah orang-orang yang duduk dalam sistem tersebut (pemerintah, swasta, dewan, dll ) sudah luntur nilai-nilai kemanusiaannya, Saya rasa sistem apapun yang diterapkan, KAPITALIS, SOSIALIS, KOMUNIS, DLL, kalau selama manusianya sudah hilang nilai-nilai luhurnya, rendah integritas moralnya, hasilnya sama saja.kemiskinan akan tetap ada dan tak pernah hilang dari muka bumi ini.

    PNPM perkotaaan menjawabnya dengan siklus/tahapan penyiapan masyarakat (internalisasi nilai-nilai luhur kemanusian ), membentuk lembaga yang komitmen terhadap kemiskinan (dipilih langsung warga berdasarkan intergritas moral/track recordnya, perencanaan paritipatif, dan penggunaan dana yang transparan dan akuntabel.
    Pertanyaannya Apakah PNPM bisa menghapuskan Kemiskinan ?
    Jawabnya Bisa, asal kita sama-sama bisa mnumbukan lagi Nilai-nilai luhur kemanusian, yang selama ini telah luntur dalam kehidupan kita berbangsa dan bermasyarakat.
    dan PNPM jangan hanya diorientasikan sebagai “Project” dimana hanya dilihat dari kuantitas pencapaian fisik, progress,dan angka-angka yang sebenarnya tidak urgent, tetapi dilihat dari bagaimana “manusia” nya telah berubah , dari ketergantungan menjadi mandiri, dari budaya “miskin” menjadi produktif, dari “budaya Korupsi” menjadi akuntabel dan transparan, Yang salah dalam PNPM selama ini menurut saya hanyalah “pelaku” nya, bukan” programnya. “semog tulisan ini sedikit memberikan pencerahan

  18. Salam kenal mas Winu! Sebuah tulisan yg sangat menarik untuk dibahas, sehingga mengundang byk komentar tentang tulisan anda. menurut saya tulisan dari tulisan anda menunjukkan bahwa begitu perhatian terhadap kemiskinan yg melanda negeri kita ini serta program2 pemerintah yg menangani hal tersebut termasuk PNPM MP, tetapi dalam tulisan anda menunjukkan bahwa anda org yg pesimistis sehingga bagaimna sutu program penanggulangan kemiskinan berjalan dengan lancar bila dalam tulisan saja kita sudah pesimis apalagi bila anda terlibat dalam pelaksanaannya. mungkin mas wisnu slh satu org yg pernah terlibat di dalam nya? pesimis kemudian keluar, apkah tuisan anda ini hanya ungkapan hati sermata yg tidak berdasrkan data2 atau fakta2 yg telah anda pelajari pada suatu daerah tertentu. saya hanya mencoba berpikir optimis saja kemudian ikut mendukung program tersebut dan berharap program2 tersebut berjalan dengan lancar, bila nantinya memeng kita melihat ada hal2 yg dirasa menyimpang dari tujuan program tersebut kita harus ikut mengingatkan kalau perlu program tersebut dihentikan. maaf bila saya salah dlm memberikan komentar, karna saya bkn org yg pandai berkata2, terima kasih.

  19. [...]  http://wisnusudibjo.wordpress.com/2007/12/28/program-nasional-pemberdayaan-masyarakat-pnpm-tidak-aka… yang direkam pada 1 Mei 2008 05:28:20 GMT. [...]

  20. Kawan2ku,
    Senang sekali membaca analisa perekonomian bangsa kita, tapi ya sekedar pendapat, memang tidak mudah mengendalikan sistim yang sudah melembaga oleh sebab manusia2nya yang memimpin semua sektor yng cara berpikirnya untuk kepentingan individu, dan yang terutama akar permasalahannya adalah mental/pikiran yang tidak disertai hati nurani, dan manusia sekarang yang sebenarnya memiliki nurani yang luhur, akan tetapi kebenaran nuraninya disembunyikan oleh sebab kebutuhan /kepentingan kekayaan semata.
    Menurut saya tulisan/saran2 yang sudah ada dilaksanakan bersamaan dengan Unity/serikat kesatuan /ketunggalan manusia , (Dekotomi Illahi),
    Situasi /atmosfir keadaan kehidupan ditentukan oleh berapa besar emosi negative secara keseluruhan, yang akan menciptakan keadaan realitas sekarang,
    Mudah2an akan ada pemimpin yang akan menyadari situasi dan kondisi tanpa membedakan drajat manusia. dan akan mengambil langkah melaksanakan ekonomi rakyat yang lebih detail dan mengerti akar permasalahannya bangsa ini, setiap warga negara berhak mendapatkan semua fasilitas yang di adakan oleh negara ini, bersambung…..

    salam unity.
    Tokoh Semar

  21. Assalamu’alaikum akhi!!
    Yang saya ketahui, PNPM itu sumber dananya adalah dari World Bank (mainannya AS; sama kaya IMF). Dan itu merupakan pinjaman alias utang LN. Jelas ada riba/bunganya. Saya dapatkan informasi ini dari sosialisasi yang dilakukan para pendamping program PNPM ini.
    Lagipula selain dicicil bentuk pencairan dananya, juga telah ditentukan jenis alokasinya yang sebagian besar (70%) untuk sarana fisik. Ingat….. negeri ini hancur salah satu faktornya adalah utang luar negerinya yang bejibun.
    Jadi, boro-boro mengentaskan kemiskinan, justru mengetaskan orang miskin.

  22. wahhh . .. . .. . . .
    top banget ulasannyaaa…….

    memang kita harus selalu kritis terhadap apa yang program – program yang dilakukan oleh berbagai pihak dalam mendukung upaya pengentasan kemiskinann bangsa ini…. termasuk di dalamnya upaya atau program yang dilakukan oleh pemerintah….
    tetapi,,, marilah kita dengan kondisi yang memang tidak ideal ini mencari nilai positif yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai sebuah solusi yang konstriktif terhadap pemberdayaan “masyarakat kurang beruntung”, walaupun program – program tersebut disinyalir syarat kepentingan, marilah kita optimalkan semaksimal mungkin dan mengambil manfaat untuk kesejahteraan bersama….
    kita janganlah terlalu apriori terhadap setiap program yang digulirkan, mailah kita mengubah paradigma pemikiran untuk selalu berpikiran positif dan jangan bertindak seolah – olah kita yang paling benar…
    dibalik program PNPM mandiri pasti ada sisi positif yang bisa dimanfaatkan dalam peningkatan taraf kesejahteraan masyarakat…. oleh sebab itu walaupun kita tidak menjadi bagian dari program tersebut, marilah kita ikut mengawal program tersebut sehingga program tersebut menjadi lebih optimal walaupun ada sisi negatif yang mungkin menjadi akibat adanya program tersebut……

    kita harus menyadari bahwa walaupun kita mempunyai latar belakang, kepentingan yang berbeda tetapi marilah kita cari persamaan – persamaan yang konstruktif…jangan kita selalu mencari – cari sesuatu kekurangan dari suatu program,,
    marilah berbaik sangka terhadap PNPM mandiri… dan pasti ada sesuatu yang bisa kita ambil manfaat dengan adanya program tersebut….
    karena suatu kondisi ideal memang harus kita ciptakan dengan memulai kondisi yang ada….
    kita harus ingat bahwa tidak semua orang dikampung maling adalah maling….dan tidak semua orang di kampung pesantren adalah santri…..
    alangkah baiknya kalau kita bisa mengondisikan semua menjadi lebih baik dengan keragaman yang kita miliki…..

    ketika anda menjustifikasi orang lain maka posisikanlah peran anda pada orang yang anda nilai . . . . ..
    dengan begitu maka anda akan dapat mudah memahami mengapa orang tersebut bertindak, berbuat seperti tersebut….

    berbahagialah anda yang mulai dari kecil telah berada pada lingkungan yang “baik”,,, coba bayangkan anda jika berada pada kondisi lingkungan yang kurang baik….
    alangkah senangnya kalau kita bisa membuat orang yang tidak seberuntung anda menjadi lebih baik . . . . . . .
    dan untuk mencapi tersebut maka kita harus secara sabar dan memahami kondisi yang ada…..setiap langkah tidak harus secara ekstrim….

    akhirnya,,, semoga kita bisa membangun bangsa ini menjadi lebih baik tanpa harus ada yang merasa kalah dan yang ada adalah kemenangan bersama….

  23. Menurut saya usaha pengentasan kemiskinan adalah salah satu kewajiban pemerintah, masalah pemerintah bisa bikin program yang baik atau tidak itu urusan SDP (Sumber Daya Pemerintah).

    Ada “jatah” orang miskin yang dipertaruhkan disini, penolakan dengan alasan yang tidak mendasar bisa menghalangi sejumlah warga miskin untuk mendapatkan “bagian” dari apa yang sudah mereka bayar pada pemerintah.

    “tidak ada rotan akarpun jadi”, daripada nunggu2 program yang bisa sesuai dengan kepentingan semua pihak mending gunakan aja yang ada dulu.

    Pikirkan perbaikan sebelum memastikan bahwa bikin program baru lebih menguntungkan.

    Salut buat sikap kritis, tapi tanpa solusi jitu ….?

  24. setuju sekali mas……

    dengan berbagai alasan, apa yang disampaikan oleh mas Wisnu adalah sesuatu yang nenarik untuk direnungkan. terutama di kalimat “Ada apa di balik PNPM?”. Menurut saya itu adalah pertanyaan yang pasti akan terlontar ketika sebuah program diluncurkan hampir merata di seluruh negara kita tercinta ini apalagi sekarang ini sedang gencar-gencarnya di blow up di media.
    pribadi juga berpikir, kenapa PNPM sampai dengan saat ini belum bisa mengurangi jumlah kemiskinan, malah menurut kebanyakan orang angka kemiskinan semakin tambah.

    Zuzur….. saya sangat setuju ….. tapi itu justru membuat saya berpikir.

    Ilustrasinya begini…..
    sebuah program dengan dana begitu besar (menurut anggapan kebanyakan orang), apalagi seperti diulas tentang prinsip dasar PNPM, begitu hebat dan idealnya prinsip tersebut, bahkan kalo kita jabarkan seolah -olah pemerintahan ditingkat provinsi kebawah tidak dapat bagian dalam pengambilan keputusan tentang penggunaan dana sehingga kita yang berpikir sepihak, pasti akan menghujat PNPM ketika melihat data justru angka kemiskinan semakin bertambah.

    Pantaskah PNPM disalahkan? Apalagi dengan kondisi payah seperti ini.
    Apakah PNPM satu-satunya Program yang diluncurkan pemerintah?

    kalo kita bandingkan dana yang digunakan untuk PNPM dengan alokasi secara keseluruhan untuk program sejenis seluruh indonesia, PNPM hanya kebagian antara 5 – 7% dari alokasi, bahkan kurang dari itu.
    Bagaimana dengan sisanya? Kemana?
    Apakah dengan alokasi 7% PNPM mampu mengurangi Kemiskinan? adakah yang menjawab mampu?

    seutas tali dipaksa menarik keatas beban 1000 ton keatas. hanya keajaiban yang bisa menjadikannya….
    saya setuju sekali dengan yang diungkapkan oleh HUDA
    “kita janganlah terlalu apriori terhadap setiap program yang digulirkan, mailah kita mengubah paradigma pemikiran untuk selalu berpikiran positif dan jangan bertindak seolah – olah kita yang paling benar…”

    Kembali ke depan, bersikap kritis itu penting, tapi janganlah memposisikan diri di salah satu pihak saja

    salut buat mas Wisnu

  25. [...] Selidik punya selidik lewat googling, akhirnya nemu satu gambar dari blog ini: [...]

  26. mas, maaf ya, tadi lupa permisiin ambil gambarnya :D
    makasi ud berkunjung ya mas wisnu :D

    Saya sebenarnya pingin muat di artikel ttg kesehatan, pendidikan, dan tenaga kerja itu.. tapi keknya nanti kepanjangan. Saya setuju sama mas.. ketiga hal kunci itu sepertinya ud sangat gamblang, namun tetap aja sepertinya “orang atas” pura2 tak bisa melihatnya… :D

  27. o iya, itu sebabnya Saya katakan, Pemerintah memang bermaksud “memelihara” kemiskinan :D

  28. Gw FK PNPM MP di salah satu kecamatan di Indonesia. Sepanjang pengamatan gw, setidaknya keminskinan para pelakunya (Mul;ai Korprov, F Kab/FT Kab. FK/FT) sudah terentaskan!!!! Soal rakyat desa, emang gw pikirin…

  29. saya sangat tertarik dengan ulasan saudara mengenai PNPM. Apalagi saya berencana sedang meneliti masalah pelaksanaan PNPM-MP di daerah terutama untuk masalah kesetaraan gender. Kritik anda sangat tajam tetapi ketika opini anda disejajarkan dengan berbagai riset tentang PNPM yg telah dilakukan oleh lembaga yg memiliki kredibilitas tinggi maka kening saya berkerut…. Tidak bisa dipungkiri memang PNPM belumlah sempurna dan kita juga tidak tahu bagaimana masa depan program tersebut. Tetapi vonis yg anda berikan membuat hati saya miris. Baru berapa tahun PNPM berjalan tapi sudah ada yg menyimpulkan akan kegagalannya. Mungkin anda belum melihat ke lapangan bagaimana antusiasnya masyarakat dalam pelaksanaan program tersebut….
    jadi jangan qt pessimis jika belum berusaha. Semoga kemiskinan dapat segera teratasi……….

    • Assalamualaikum,

      Good, anda juga kritis. Saya senang akan hal itu. Saya cuman yakin akan satu hal, selama kita tidak menyelesaikan akar masalahnya, selama itu pula masalah – masalahnya akan tetap muncul. Pohon hanya bisa dilenyapkan jika akarnya kita cabut. Kalaupun PNPM ini tampak berhasil, saya yakin itu hanya sementara saja. Sebagaimana halnya rumput gajah yang dipotong pada saat pagi, ke esokan harinya pasti tumbuh lagi.

      Wassalam,

      Saya tunggu hasil penelitian saudara.

  30. cukup baik tulisan anda, saya juga menganggap demikian. tetapi ini paling tidak pilihan yan terbaik pada saat ini. mari kita kontrol PNPM ini agar tepat sasaran.
    wassalam

    • Sebenarnya masalahnya adalah paradigma pemerintah yang menganggap akar masalah kemiskinan adalah itu. Bukan masalah dukung atau tidak dukung. Tetapi paradigmanya. Saya dukung 1 trilyun persen pun, kalau tidak menyelesaikan akar masalahnya, maka masalah kemiskinan ini tidak akan selesai. Dengan kata lain, saya yakin bahwa program ini akan gagal. Atau sama yakinnya dengan kenyataan bahwa rumput gajah akan tumbuh lagi esok hari bila akarnya tidak kita cabut hari ini. So, kenapa kita tidak memilih untuk mencabut akarnya hari ini juga.

  31. semua program yang telah dilaksanakan pemerintah tentu ada dampak positif dan negatifnya serta ada manfaat langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat. oleh karena itu sangat perlu dilakukan monitoring dan evaluasi yaitu untuk mengetahui penyebab keberhasilan, belum berhasilnya atau kegagalan yang terjadi dari suatu program. semua program yang telah dilaksanakan tentunya melalui perencanaan yang matang terlebih dahulu. namun betapapun sempurnanya suatu perencanaan itu pasti ada kekurangan yang timbul pada tahap pelaksanaan. iya kan pak wisnu? termasuk program pnpm yang telah dan akan berlangsung saat ini. janganlah bersikap apriori dulu karena semua pendapat harus berdasarkan fakta dan data yang harus akurat. tentu saja pemerintah telah bekerja keras untuk memikirkan masyarakat namun mengapa masyarakat itu sendiri yang bersikap kurang berterima kasih dan sangsi atas keberhasilan program yang dilaksanakan. saya hanya ingin mengajak marilah kita bersama-sama mensukseskan program2 pemerintah sesuai dengan bidang kita masing-masing. insya alloh program yang ditujukan untuk masyarakat termasuk kita dapat berhasil dengan baik. terima kasih.

  32. namanya juga utang (pemerintah nyebutnya pinjaman lunak) pasti ada bunganya.yang bayar utang pastinya rakyat juga.lihat aja nanti…pnpm sendiri sebenarnya cuma sarana kampanye pilpres aja.alokasi dananya cukup besar tapi hasil sangat minim, banyak di korup…
    itulah indonesia raya…

  33. kasian, orang indonesia bawaannya nyalahin ekonomi kapitalis atau amerika melulu. Lupa ya kalo kita negara paling korup.

Leave a Reply